20
Oct
09

Penetrasi Kartu Debit Berbanding Lurus dengan Penggunaannya

kartumandiri-debitIni kabar baik bagi kalangan perbankan bahwa alat pembayaran menggunakan kartu (APMK), terutama Kartu Debit mengalami perkembangan sangat pesat karena tingkat penerimaan yang tinggi oleh nasabah. Tentunya ini sejalan dengan misi Bank Indonesia (pemerintah) yang ingin semakin memperkecil penggunaan uang tunai di masyarakat sehingga tercipta cash less society.

Kartu Debit adalah kartu khusus yang diberikan oleh bank kepada pemilik rekening, yang dapat digunakan untuk bertransaksi secara elektronis atas rekening tersebut. Pada saat kartu digunakan bertransaksi, akan langsung mengurangi dana yang tersedia pada rekening.

Apabila digunakan untuk bertransaksi di mesin ATM, maka kartu tersebut dikenal sebagai Kartu ATM. Namun apabila digunakan untuk transaksi pembayaran dan pembelanjaan non-tunai dengan menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture), maka kartu tersebut dikenal sebagai Kartu Debit. Setiap pemegang kartu diberikan nomor pribadi (PIN) yang sangat rahasia untuk keamanan dan otorisasi transaksi.

Untuk Kartu Debit, selain otorisasi dengan PIN, dimungkinkan pula otorisasi dengan tanda tangan seperti halnya Kartu Kredit. Batas (limit) transaksi Kartu Debit dan Kartu ATM tergantung dari jenis kartu yang dimiliki nasabah. Umumnya terdiri dari limit jumlah dan frekuensi transaksi, baik untuk penarikan tunai, belanja, maupun transfer.

Berdasarkan hasil riset MARS Indonesia dalam Indonesian Consumer Profile 2008, tingkat kepemilikan (penetrasi) kartu debit sudah relatif tinggi mencapai 51,4%. Pemilik kartu debit ini rata-rata adalah nasabah berkelas sosial-ekonomi A dan B atau mereka yang alokasi belanja bulanannya mulai Rp 1.250.000 hingga Rp 2.500.000. Nasabah Jakarta tingkat kepemilikannya paling tinggi mencapai 62,1% dibanding nasabah Surabaya yang hanya 37,5%.

Jenis kartu debit yang banyak dimiliki nasabah mayoritas adalah Debit BCA dengan tingkat penetrasi mencapai 57,9%. Kemudian disusul berikutnya Kartu Mandiri dengan penetrasi 9,2%. Namun yang lain angkanya di bawah 6% seperti BNI Card (5,9%), Kartu Niaga (4,2%), Debit Card BII (4,0%), dan Danamon Card (4,0%).

Hebatnya, tingkat penetrasi ini nyaris berbanding lurus dengan tingkat penggunaannya. Artinya, nasabah yang memiliki kartu debit tidak sekadar memilikinya tapi sekaligus menggunakannya untuk berbagai transaksi pembayaran. Debit BCA, misalnya, yang penetrasinya sebesar 57,9% ternyata nasabah yang aktif menggunakannya mencapai 56,8%. Demikian juga Kartu Mandiri, antara penetrasi dan penggunaan berbanding 9,2% dan 8,9%.
tabel-kartudebit
Apakah kartu debit mendorong konsumerisme? Mari kita simak jenis transaksi yang biasa dilakukan dengan menggunakan kartu debit. Porsi tertinggi, yaitu sebesar 81,9%, ternyata digunakan untuk transaksi belanja. Sedangkan di luar belanja porsinya relatif kecil. Untuk transfer misalnya hanya 8,4%, juga untuk pembayaran tagihan telepon dan biaya rumah sakit masing-masing hanya 0,5% dan 0,3%. Sementara untuk tarik tunai porsinya lumayan tinggi yaitu 21,7%.

Pada semua jenis transaksi menggunakan kartu debit tersebut, jumlah nominal yang biasa dikeluarkan umumnya berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 1.000.000. Tapi porsi tertinggi, yaitu 41,5%, jumlahnya berkisar antara Rp 200.001- Rp 500.000. Berikutnya kisaran kurang dari Rp 200.000 sebanyak 21,8% dan kisaran Rp 500.001- Rp 1.000.000 sebanyak 20,3%. Sedangkan kisaran Rp 1.000.0001- Rp 2.000.000 hanya mengambil porsi 10,0%. ***


0 Responses to “Penetrasi Kartu Debit Berbanding Lurus dengan Penggunaannya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: